"Setelah Jack dan aku berkencan kurang lebih sebulan, aku tahu aku mencintainya. Kukira dia mencintaiku pula. Aku ingin mengatakan padanya, mengungkapkan perasaanku, tapi aku tidak melakukannya. Tidak langsung begitu saja. Aku menyimpan kata-kata itu seperti seorang anak menyimpan recehannya, menyimpannya dengan rapi sampai daya beli nya memiliki kekuatan mistis. Kata cinta punya nilai bagi kami saat itu, seperti mata uang yang kau simpan dengan pelitnya dan memberikannya hanya ketika kau tahu bahwa balasan yang kau terima cukup berharga. Ketika aku mengatakan padanya dan dia membalasnya, aku merasa menang lotre."
"Tahun berlalu, mata uang kami menjadi semakin tidak berharga ketika kami mulai memberikan kalimat ‘I love you’ sebagai tip saja, saling melontarkannya begitu saja karena kami tahu itulah yg diharapkannya. Pernyataan cinta kami mengikuti prinsip ekonomi hingga persediaan keliatannya melampaui permintaan hanya karena kalimat itu sudah terlalu berlimpah. Sampai kami lupa bahwa mengatakan ‘I love you’ pernah punya nilai, dan maknanya menjadi tidak berarti sama sekali, lenyap seperti rubel Rusia."
Comments
Post a Comment