Goceng



Siapa yang bakal menduga sih dengan harga goceng (lima ribu rupiah) lo bisa mendapatkan buku/novel yang ternyata ngga terduga isinya. Awalnya gue ambil buku ini hanya sekedar iseng belaka termasuk dengan 4 buku yang lainnya. Apalagi yang harganya cuma goceng. Dari seleksi itulah terpilih 5 buku yang salah satunya adalah ini "Shit Happens". Buku karangan Christian Simamora dan Windy Ariestanty ini bener-bener bikin gue harus banget ngomong W-O-W! Asli ngga nyangka isinya bakal sedalem itu. Bahasannya jujur dan kini banget (sesuai masa terbitnya sih, tahun 2007-an). Dan ada satu bab yang paling gue suka dan sedikit banyak menyentil sikap dan pribadi gue sendiri sampe sekarang gue ngga menyangka bisa satu sikap sama karakter ini.

Namanya Lula, cerita sebelumnya diceritain bahwa dia kebelet banget punya cowo hanya karna status. Dia butuh status itu buat dateng ke kawinan mantannya yang notabene waktu mereka pacaran ngga pernah ngajak si Lula ini nikah. Alhasil dia ketemu dengan yang namanya Dudi. Dudi ini tipikal orang yang ramah dan semenjak jadian, Dudi mau seriusin hubungan mereka ini. Beda sama Lula semenjak beberapa hari setelah kawinan mantannya itu, rasanya garing banget sama Dudi, datar, rasanya begah banget dengerin celotehan si Dudi ini, sampe akhirnya Dudi nanya ke Lula;
"Say ntar kamu mau punya anak berapa?"
Lula dengan pemikiran yang 'ngga kepepet banget pengen kawin dan sempet berpikir gamau punya anak dengan gampangnya ngomong;
"Satu aja udah syukur"
Wait bukan bagian ini yang membuat gue merasa satu sikap sama Lula. Setelah dialog itu Lula sama Dodi mulai berargumen tentang bagaimana mereka akan berumahtangga, seperti kata Dodi yang ngga menginginkan seorang Istri itu bekerja dan ngga mengurus anak sedangkan Lula yang masih mau bekerja setelah menikah (yes Lula I'm with you kok). Sampai pada ahirnya dialog ini ngebawa Lula ke suasana yang menjengkelkan banget dan dengan kata terakhirnya;
"SO FUCKIN PRIMITIVE"
Lula pergi ninggalin si Dudi.

And then here are Lula with her bestfriend Langit (female, but still don't know what gender should her choose, aneh? memang parah) curhat abis-abisan tentang kejadian barusan dan minta pendapat Langit. Lula ngga nyangka bahwa Langit malah belain Dudi dalam masalah tadi dan (dalam pikiran Lula) malah nyalahin Lula kenapa harus ninggalin Dudi pergi dengan keadaan kayak gitu, bukannya duduk tenang dan ngejelasin baik-baik komitmen yang Lula mau. Alhasil Lula malah maki-maki Langit dengan masalah Langit yang menurut Langit sensitif yakni masalah pilihan kelaminnya (?) (still, I don't know if those human really exist, enlighten me? Someone?) dan karena betenya itu akhirnya Langit ngomong;
"You're just hearing, not listening. You're just speaking not talking, Ul."

Well pada awalnya gue sama sekali ngga paham sih maksud dari kalimat itu apa, sampai pada akhir bab Lula berpikir dalam hati
"Kemana aja gue selama ini? Kayaknya, gue terlalu sibuk dengan pikiran sendiri. Gue terlalu egois. Karena ngga ingin disakiti, gue menuntut orang lain yang  harus memahami gue. Gue lupa, dalam setiap hubungan harusnya kita saling mendengar. Saling berbicara"
"Mengkomunikasikannya. Bukan langsung ambil langkah seribu ketika perbedaan terlihat"
"Gue anggap selama ini gue udah banyak bicara. Ternyata keliru. Gue cuman sekadar ngomong. Gue ngga pernah benar-benar mengkomunikasikan apa pun. Gue cuma takut dituduh ngga bisa berkompromi. Ngga penuh toleransi. Gue masih gagap dengan konsep sebuah komitmen dalam berhubungan. Gue menjadikan perbedaan yang ada sebagai alasan pembenaran untuk pergi"
DEGGGGGGG!!!!!!!
I'm out

Comments

Popular posts from this blog

CLEARANCE SALE! EVERYTHING MUST GO!!!

2012 Movie-List: Modus Anomali

Nice One