Spill it out, Bung

I changed that much. 
Itu hal pertama yang gue pikirkan setelah gue melihat DM (direct message) twitter gue 2 tahun kebelakang. Gue bukan yang sengaja nyari-nyari galau terus buka-buka masa lalu. Ngga kok. Flashback ini terjadi dikarenakan bb gue rusak dan harus meng-upgrade ulang semuanya. Jadi pas gue harus register twitter dari awal, terbukalah pula lembaran-lembaran DM dari pertama kali buat twitter itu. Hal yang gue temuin disitu ngga hanya soal galau aja, yang bahagia juga ada. Tapi tetep ya, yang difokuskan lebih ke hal yang meng-galaukan hati. Namun maksud gue "meng-galaukan hati" itu pada saat  gue menulis DM itu, ngga pas gue baca DM-DM itu, sekarang. Gue malah ngerasa ada yang aneh dan bikin bingung kalo baca DM itu sekarang. Kenapa? Ini merupakan pertanyaan super menarik yang pop-up di kepala gue.
"Wow gue dulu ceriwis banget ya, semua-semua diceritain ke temen-temen terdekat gue. Semua gue ceritain detil ke mereka. Bahkan beberapa isi DM itu sama karna gue mau ngabarin mereka hal yang sama dengan waktu yang sama pula, karena pada saat itu gue pengen semua temen-temen gue tau hal happening apa yang terjadi sama gue, dan mereka dengan sabar bales satu-satu keluhan gue dengan nasihat-nasihat yang sebenarnya cliche tapi menenangkan (kidding guys ;p). I still have them now, but why I never talk to them the way it used to be? "
Bukan, bukan karena mereka yang ga bersedia dengerin cerita gue. Dan bukan juga karena mereka ngga nyari-nyari gue lagi.
Ini terlebih karena gue yang menutup diri. Menutup kemungkinan orang lain untuk tau lebih mendalam soal kehidupan pribadi gue. Ketika gue terlihat ada masalah dan temen gue bertanya "lo lagi kenapa Bung?" atau "kok murung, knp? Berantem?", gue lebih memilih untuk menjawab "nope I am fine" atau "alah gapapa kok sepele" sampai pada suatu titik, ketika gue ngga bisa nanggung semua permasalahan gue, gue sadar, gue bingung, gue butuh orang lain untuk tau masalah ini, gue panik. Gue gatau harus cerita sama siapa atau lebih bingung lagi, meskipun gue mau cerita, gue gatau gue harus cerita darimana, dari awal? Itu panjang banget. 

Then I realized, I should've talk to them from first who wanna hear my story, not just hear because they curious or being happy behind my back caused by my pain, I should talk to who really care of me, not the one who wanted hear and waiting in line they turn to talk about themselves (well, different problem isn't it?). No, not that I don't that trust all of my close friend. By that means, that's a new one problem in my life, I don't know who really care of me, who really want to share without me being judge. 

Dan sekarang, berkat pemikiran ini, gue sadar kenapa gue menutup diri kayak sekarang. Sangat sadar. Lagi-lagi masalah terbesar bukan karena masalah tadi. No, friends I love you, but enlighten me to through this storm, oke. Dan sayangnya meskipun di blog gue sendiri, I can't spill it out.

Comments

Popular posts from this blog

CLEARANCE SALE! EVERYTHING MUST GO!!!

2012 Movie-List: Modus Anomali

Nice One