Not-so-called-Farewell

Just had a very emotional moment in my entire life with someone that I which never met before. I didn't know why that I felt really so close to this woman. 

Semalem sempet baca tweet pribadinya beliau yang berkicau 
'Kamis besok menjadi hari terakhir siaran di . Dua tahun lebih yang menyenangkan. Banyak sejarah manis kusimpan di hati.' 
Lanjut lagi dia nge-tweet
'Terima kasih telah menjadikan saya bagian dari keluarga selama 5 1/2 tahun. Semuanya pengalaman berharga. 'Bahagia mendapat restu dari orang-orang terkasih di untuk pindah ke "rumah" baru. Saya akan teruskan misi media yang mendidik :)'

Deggg aja tiba-tiba perasaan gue, dibarengi dengan rasa super capek abis berenang di PIK, dan baca tweet barusan, suddenly langsung mikir, mikir, mikir, terus ketiduran... (antiklimaks).

Paginya gue ngerasa harus banget ngeliat dia siaran untuk terakhir kali di acara favorit gue dimana gue menemukan sosok menyenangkan ini. Dengan masih basian sisa lelah renang kemarin, gue susah payah bangkit dari tempat tidur dan melangkah gontai nyalain TV. Langsung menuju channel yang gue mau dan ini yang kudapati:


Marissa Anita. Ya, doi adalah role model bagi gue dan 8-11 show adalah acara pertama yang bikin gue aware sama orang yang multitalenta nya ngga tanggung-tanggung dan dia cabut dari 8-11 show ini karena mau pindah ke yang dia sebut 'rumah baru'. Well, I seriously don't know why I feel so attach to her. Denger dia nyanyiin lagu itu tuh kayak bakal kepisah gitu sama dia dan bakal kangen liat dia tiap pagi yang mana setiap pagi gue gak pernah absen nonton acara ini bahkan ngga mau ganti channel sampe acara ini beres. 

Mungkin udah sekitar 1,5 tahun ini gue mengamati Marissa Anita dan mengidolakan dia. Mulai dari mem-follow twitter nya dia, meng-google namanya dia, dan rajin membaca tulisan-tulisan di wordpress-nya. Berkat menemukan wordpress-nya gue jadi tahu kalo wanita ini lulusan S2 di Aussie jurusan Media dan bisa berbicara 5 bahasa. And I found it like, wow! Udah cantik, pinter banget pula gini, pasti pengalamannya ngga mungkin remeh apalagi kalau dilihat dari cara dia mengatasi dan seperti 'memiliki' berita yang Ia bawakan. Ditambah skill theatrical dia yang udah dia geluti dari kuliah S1. Bener-bener suatu citra diri yang lengkap banget gaksih?

Tulisan-tulisan di wordpress-nya pun terlihat, hmm, gimana ya, bisa gue sebut pasti. Pembaca ngga ngerasa digurui serta pembaca-pun tau bahwa Marissa Anita ini adalah sumber yang bisa dipercaya tulisannya. Ada salah satu postingan dia yang sampe sekarang gue inget, yaitu

Live for Love for Happiness


Do you marry for love or for money? Apakah Anda menikahi seseorang demi cinta atau uang?
Pertanyaan ini saya lempar ke Twitter dan mendapatkan jawaban bervariasi. Ada yang menikah demi uang. Ada yang demi cinta. Ada yang demi dua-duanya. Ada yang demi masa depan. Ada yang demi orang tua. Ada yang demi seks. Ada yang demi Tuhan.
Menarik. Dan tentunya semua orang punya alasan sendiri-sendiri.
Menikah adalah keputusan besar dalam hidup kita. Ketika saya memutuskan untuk menikah karena saya jatuh cinta. Jatuh cinta dengan komunikasi antara saya dan pasangan yang seperti tak ada ujungnya.
  • Karena kita memiliki kemiripan hobi dan pandangan hidup.
  • Karena dia menjalankan hidup dengan passion dan mendukung penuh saya menjalankan hidup dan pekerjaan sesuai dengan passion saya.
  • Karena dia memiliki kepandaian dan ketrampilan untuk menciptakan hidup yang nyaman dan berkecukupan.
  • Karena dia memiliki kepandaian dan ilmu yang saya bisa pelajari begitu pula sebaliknya.
  • Karena kita bisa terbuka dan apa adanya dengan satu sama lain.
  • Karena kita bisa jujur mengenai semua hal — apakah itu hal yang baik atau pun hal kurang mengenakkan.
  • Karena saya bisa menjadi diri sendiri — dengan segala kekurangan dan kelebihan — dan dia tetap mencintai saya begitu pula sebaliknya.
  • Karena dia memiliki empati dan mampu mengajarkan empati.
  • Karena dia menganggap saya sejajar; mendengarkan pendapat dan mempertimbangkan pendapat atau pandangan saya terhadap sesuatu begitu pula sebaliknya.
  • Karena saya tidak pernah berhenti merindukannya ketika dia pergi dinas ke luar kota atau mengunjungi keluarga besar di negeri seberang.
  • Karena komunikasi kita tidak berhenti pada hal-hal garis besar, melainkan semua topik menarik yang sedang hangat.
  • Karena dia selalu makan sampai habis makanan yang saya masak apakah itu tidak enak, biasa atau enak (tergantung mood) tanpa mengeluh.
  • Karena kita bisa bicara dan bercanda tentang apa saja. Saya tidak pernah merasa dia akan terganggu dengan candaan saya separah atau segokil apa pun itu, begitu pula sebaliknya. Dan yang terpenting . . .
  • Karena saya tidak bisa hidup tanpa dia begitu pula sebaliknya.
Mungkin ini bisa menjadi sebagian dari checklist sebelum kita memutuskan untuk menjadikan kekasih kita sekarang sebagai pasangan seumur hidup. Saya yakin masih banyak lagi poin-poin yang Anda miliki untuk melengkapi kebahagiaan dalam hidup. Live for love for happiness!
--------------------------------------------------
Jujur, menemukan salah satu passion gue ya berkat menemukan sosok Marissa Anita. Yup, you guys named it, my passion that I mostly talked about is being news anchor for my future job. And I really have a dream scene when she and I will work together at a news show. Dan bagi gue ya untuk news stasiun TV yang cocok emang cuma Metro TV. Rasanya dia mau pindah dari stasiun TV inituh semacam merasa kehilangan kesempatan untuk bisa belajar dari dia, aneh ya? Emang, gue juga bingung. Apalagi di hampir closing acara salah satu news anchor pengganti Marissa nantinya di 8-11 show nyanyiin lagu ini:



Tes...tes...tes... gatau kenapa tiba-tiba ikut menangis lah gue liat scene mengharukan tadi pagi di closing 8-11 show. Well, I am, Berharap tak Berpisah liat Marissa di 8-11 show. Dia bilang akan ngasih tau 'rumah baru'nya akhir Mei nanti. Right then, hope that universe will allow me at least once to meet you and work with you. Goodluck :)

Comments

Popular posts from this blog

CLEARANCE SALE! EVERYTHING MUST GO!!!

2012 Movie-List: Modus Anomali

Nice One